Janganpernah menilai seseorang dengan melihat masa lalunya Betapa banyak diantara kita yang memiliki masa lalu yang kelam.. jauh dari sunnah, jauh
Janganpernah menilai seseorang dengan melihat masa lalunya. betapa banyak diantara kita yang memiliki masa lalu yang kelamjauh dari sunnahjauh dari hidayahtenggelam dalam dunia yang meniputerombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista Bukankah banyak sahabat radhiallahu 'anhum yang dahulunya pelaku kemaksiatan, peminum khomr, bahkan pelaku kesyirikan? Akan tetapi
Sebagaimanaanda tidak ingin orang lain menilai anda dengan melihat masa lalu kelam andamaka janganlah anda menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yang buruk.. Yang menjadi patokan adalah kesudahan seseorangkondisinya tatkala akan lalunya.
Janganmenilai orang dari masa lalunya, karena kita tidak mengenal dia di masa lalu yang dilaluinya. Lihatlah orang dari saat kita mengenalnya, sebab ketika menilai orang dari masa lalunya, kita bisa tertipu. Bisa jadi dia buruk di masa lalu, namun hijrahnya membuat dia jadi orang baik di masa sekarang. Dan bisa jadi dia baik di masa lalu, tapi karena mengikuti nafsunya qodarullah dia saat ini tidak sebaik dirinya di masa lalu.
Erickmenyebut era digital mengubah begitu banyak sendi-sendi kehidupan masyarakat. Hal ini terlihat dari perubahan cara kerja, cara berusaha, hingga hal-hal penting lain dalam kehidupan yang sangat memerlukan dukungan digital. Meski tak ubah, ucap Erick, Indonesia memiliki sumber daya besar dalam menjadikan ekonomi digital sebagai fondasi
Karena ketika seseorang belum usai dan juga move on dari masa lalunya namun ia sudah berani menjalin hubungan yang baru, maka hal itu akan menyakitkan. Orang baru yang tidak memiliki salah, dijadikan pelampiasan dan pelarian atas hubungan yang lalu. Jangan karena ingin terlihat sudah move on, terus mengorbankan perasaan tulus orang lain.
Diaini istriku yang ke-16 mana mungkin dia bisa jadi pacarmu Genderuwo kadang senang menepuk pantat perempuan, mengelus tubuh perempuan ketika sedang tidur, bahkan sampai memindahkan pakaian dalam perempuan ke orang lain Share your videos with friends, family, and the world Para Atma ini adalah hantu-hantu lokal yang terdiri dari karakter
_Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh_* MENILAI SESEORANG ️ Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى ☝ Jangan pernah menilai seseorang dengan melihat masa lalunya. ☝ Betapa
CerpenTentang Jangan Menilai Orang dari Masa Lalunya, Singkat dan Inspiratif. Dok. Gurupenyemangat.com. Namanya Maya, seorang gadis berambut pirang yang pemarah. Memiliki Alis yang tebal, sorot matanya begitu tajam. Mukanya yang masam membuat setiap orang yang berhadapan dengannya langsung bergidik ketakutan.
XmIwKH. Kita seringkali dihadapkan pada situasi di mana kita menilai orang dari masa lalu mereka. Apakah ini benar-benar adil? Apakah kita seharusnya menilai seseorang berdasarkan apa yang mereka lakukan di masa lalu mereka? Di sini, kita akan membahas mengapa kita seharusnya tidak menilai orang dari masa lalu mereka. Masa Lalu Mereka Bukanlah Semuanya Ketika kita menilai orang dari masa lalu mereka, kita cenderung melupakan fakta bahwa masa lalu mereka bukanlah semuanya. Seseorang mungkin melakukan kesalahan di masa lalu mereka, tetapi mereka juga telah belajar dari kesalahan itu dan berkembang menjadi orang yang lebih baik. Kita tidak bisa memandang seseorang sebagai individu yang sama seperti mereka di masa lalu mereka. Orang Berubah Kita semua tahu bahwa orang berubah seiring waktu. Seseorang yang melakukan kesalahan di masa lalu mereka mungkin telah belajar dari kesalahan itu dan berubah menjadi individu yang jauh lebih baik. Kita harus memberi kesempatan pada orang tersebut untuk membuktikan bahwa mereka telah berubah dan menjadi lebih baik. Kelemahan yang Ada di Masa Lalu Tidak Menentukan Siapa Seseorang di Masa Depan Kita semua melakukan kesalahan di masa lalu kita, dan itu adalah normal. Namun, kelemahan yang ada di masa lalu kita tidak menentukan siapa kita di masa depan. Kita harus memberikan kesempatan pada orang lain untuk tumbuh dan berkembang, tanpa menilai mereka berdasarkan kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu. Setiap Orang Berhak atas Kesempatan Kedua Kita semua berhak atas kesempatan kedua. Kita semua melakukan kesalahan, dan kita semua berhak untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Kita tidak bisa terus menilai orang atas kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu mereka, tanpa memberikan kesempatan pada mereka untuk memperbaiki kesalahan itu. Seseorang Bisa Menjadi Orang yang Berbeda Seseorang yang melakukan kesalahan di masa lalu mereka bisa menjadi orang yang berbeda di masa depan. Mereka bisa belajar dari kesalahan mereka dan berkembang menjadi individu yang lebih baik. Kita harus memberikan kesempatan pada orang tersebut untuk tumbuh dan berkembang, tanpa menilai mereka berdasarkan masa lalu mereka. Kita Tidak Bisa Mengubah Masa Lalu Ada kalanya kita merasa tergoda untuk menilai orang dari masa lalu mereka. Namun, kita tidak bisa mengubah masa lalu. Kita hanya bisa memilih untuk memaafkan dan memberikan kesempatan kedua pada orang tersebut. Kita harus memandang ke masa depan dan memberikan kesempatan pada orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Kesimpulan Menilai orang dari masa lalu mereka tidak adil. Kita harus memberikan kesempatan pada orang lain untuk tumbuh dan berkembang, tanpa menilai mereka berdasarkan kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu mereka. Setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan menjadi individu yang lebih baik. Kita harus memberikan kesempatan pada orang lain untuk membuktikan bahwa mereka telah berubah dan menjadi lebih baik dari masa lalu mereka. Kita harus memandang ke masa depan dan memberikan kesempatan pada orang lain untuk tumbuh dan berkembang.
JANGAN pernah menilai seseorang dengan melihat masa lalunya. Berapa banyak di antara kita yang memiliki masa lalu yang kelam? Masa lalu yang jauh dari sunnah, jauh dari hidayah, terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista? Bukankah banyak sahabat Radhiyallahu anhu yang dahulunya pelaku kemaksiatan, peminum khamr, bahkan pelaku kesyirikan?? Akan tetapi, cahaya hidayah menyapa mereka generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini.. Bisa jadi, kita salah satu dari mereka para muslimah yang memiliki masa lalu kelam. Sebagaimana kita tidak ingin orang lain menilai kita dengan melihat masa lalu kelam kita, maka janganlah kita menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yang buruk. Yang menjadi patokan adalah kesudahan seseorang, kondisinya tatkala meninggal, bukan masa lalunya. Baca Juga Memperbaiki Warisan Pengasuhan Masa Lalu yang Kurang Baik Sebaliknya, masa depan biarlah datang saat telah tiba kondisi terbaiknya. Kamu hidup hari ini, bersedekahlah selagi kamu mampu. Jangan mencemaskan kemiskinan di masa depan yang belum pasti akan kamu alami. Setan selalu memainkan pikiran kita dengan ketakutan ini. “Setan menjanjikan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan kikir, sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia” Al-Baqarah 268 Dr. Aidh al-Qarni dalam bukunya La Tahzan mengatakan “Jika kamu dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa kamu bersedih hati atas air asin yang kamu minum kemarin, atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi? Maka ucapkanlah hanya perkataan-perkataan baik hari ini, berzikirlan dengan sepunuh hati, berbaktilah kepada orang tua dengan lemah lembut, datangilah ilmu sebanyak-banyaknya, syukurilah apa yang ada padamu saat ini, bersihkan tubuhmu dan tampilah dengan rapi, sapa dan bantu masyarakat sekitar yang sedang membutuhkan. Berbuat baiklah seolah kamu lahir hari ini tanpa kesedihan, kekecewaan serta kemarahan, dan berbuat baiklah seolah kamu mati hari ini tanpa ketakutan dan kecemasan atas masa depan yang tidak pasti. [Ln/ind] Sumber
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Entah kenapa, hari ini banyak orang gemar membicarakan masa lalu seseorang? Katanya ber-akhlak tapi senang membahas sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Lupa ya, masa lalu itu hanya kenangan. Sudah terlewati dan tidak lagi berpengaruh di hari ini. Maka simpan saja masa lalu sebagai pelajaran. Untuk masa depan yang lebih pernah menilai seseorang dari masa lalunya. Apa karena orang lain masa lalunya jelek, lalu kita baik? Atau karena kita senang bergaul dengan orang-orang yang gemar bergosip bahkan bergibah? Memangnya, kita membantu apa pada mereka. Terus bila masa lalu seseorang buruk, apa kita pasti baik?. Kita menjelek-jelekkan masa lalu orang lain. Tapi kita sendiri hanya bicara dan berpikir yang jelek tanpa mampu berbuat yang baik secara nyata, kok bisa? Manusia sering lupa. Sejatinya, hampir semua manusia pasti memiliki masa lalu yang kelam. Jauh dari sunnah Allah SWT, jauh dari hidayah, bahkan terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista. Bukankah banyak sahabat Rasulullah yang dahulunya pelaku kemaksiatan, peminum khamar, penjudi bahkan pelaku kesyirikan? Akan tetapi, tatkala cahaya hidayah menyapa mereka. Jadilah, mereka sebagai generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini. Maka bisa jadi, kita adalah salah satu dari mereka yang memiliki masa lalu kelam. Lalu, kenapa kita sudi menilai seseorang hanya dari masa lalunya? Sekali lagi, masa lalu untuk siapapun hanya sebatas kenangan dan pelajaran. Justru, sebaik-sebaik manusia adalah pada akhirnya. Seperti diriwayatkan, "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya." HR. Bukhari, No. 6607. Amalan itu ada yang jelek, ada yang bagus. Amalan yang sangat manusiawi lagi lumrah. Tapi, amalan yang terbaik ada pada akhirnya. Amalan yang dilakukan di akhir umur kita. Sebagai penentu atas balasan yang dihisab. Siapa yang beramal jelek lalu beralih beramal baik, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat. Sebaliknya, siapa yang berpindah dari iman menjadi kufur, maka ia dianggap murtad. Bisa jadi, seseorang yang dinilai buruk masa lalunya. Namun dalam batinnya kini, masih ada benih kebaikan dan istikomah bertindak baik. Maka di situlah, seseorang dapat meraih husnul khotimah, bukan suul pernah menilai seseorang dari masa lalunya. Cukup jadikan masa lalu sebagai hikmah dan pelajaran. Untuk terus bergerak dan bertindak baik di manapun. Mumpung masih ada waktu, masih ada umur yang tersisa. Agar menjadikan semua aktivitas sebagai ladang amal. Menebar manfaat dan kebaikan kepada orang lain. Maka, janganlah menilai seseorang dari masa lalunya. Karena yang menjadi acuan adalah kesudahan seseorang saat meninggal dunia. Dalam keadaan baik atau buruk yang dilakukannya, bukan pada masa lalunya. Salam literasi PegiatLiterasi TamanBacaan TBMLenteraPustaka Lihat Sosbud Selengkapnya